Message in a bottle adalah sebuah buku karya Nicholas Sparks yang mengisahkan tentang pencarian sebagian hati yang hilang akibat pengkhianatan. Theresa, merupakan seorang wanita yang telah menutup hatinya dari yang namanya cinta. Ia adalah seorang jurnalis sebuah surat kabar di Kota Boston yang juga merupakan seorang ibu dari anak laki-laki bernama Kevin. Perceraian dengan suaminya menyebabkan ia harus bekerja sepenuh hati demi menghidupi anak lelakinya yang mulai beranjak dewasa.
Kisah hidupnya dimulai ketika Kevin sedang menghabiskan liburannya dengan David, ayahnya sekaligus mantan suami Theresa. Untuk menghabiskan waktunya, ia diajak Deanna yang merupakan atasan sekaligus sahabat Theresa untuk pergi berlibur. Cape Cod merupakan tujuan utamanya. Mereka memiliki sebuah pondok kecil ditepi pantai, disana Deanna biasa menghabiskan waktu dengan suaminya.
Suatu pagi, Theresa melakukan jogging yang merupakan kegemarannya sekaligus hal yang ia lakukan untuk menjaga kesehatannya dan menenangkan dirinya. Ketika ia beristirahat sejenak di pinggir pantai, ia sempat menemukan sebuah botol yang didalamnya terlihat sebuah surat. Pertama kali mengambilnya, Theresa merasa sangat antusias, karena ketika ia masih kecil dan sedang berlibur dengan orang tuanya di Florida, ditemani dengan seorang temannya, mereka membuat sebuah surat botol. Setelah sekian lama, kenangan akan surat itu terlupakan, dan kini ia menemukan sebuah surat lainnya. Sejenak Theresa merasa tegang, mungkin saja itu surat yang dulu ia lemparkan ke laut bersama dengan teman dan kenangan masa kecilnya.
Setelah ia mengambil botol itu, terlihat jelas bahwa kertas surat yang ia temukan terlihat sudah sangat lama. Ia berusaha membuka tutup botol tersebut dengan perasaan tegang. setelah sekian lama ia berkutat membuka, akhirnya tutup tersebut terlepas dari mulut botol.
“…Aku ada disini untuk mencintaimu, untuk memelukmu, untuk melindungimu. Aku ada disini untuk belajar darimu dan untuk merasakan balasan cintamu. Aku ada disini karena tak ada tempat lain lagi bagiku….”
Surat tersebut di buat oleh seorang pria bernama Garret dan diperuntukkan bagi seorang wanita bernama Catherine. Setelah ia membaca surat tersebut dan tersentuh akan isinya, ia kembali ke pondok Deanna. Dalam kebingungan Deanna bertanya apa yang terjadi pada Theresa, kemudian Theresa menjelaskan semuanya dan memberikan surat botol tersebut kepada Deanna. Deanna berpikir untuk memuat surat tersebut dalam salah satu kolom di surat kabar tempat mereka bekerja.
Semula Theresa menolak hal tersebut, ia berpikir surat itu bersifat pribadi dan mungkin hanya sebuah tulisan iseng saja, namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ia setuju untuk memuat surat tersebut dalam salah satu rubrik di surat kabar. Setelah sekian lama, banyak masyarakat yang mengagumi surat tersebut, beberapa ada yang mengaku sebagai penulisnya.
Pada saat Theresa mengecek surat untuknya, ia menemukan salah satu surat lain yang dikirim oleh penulis yang sama dengan tujuan yang sama seperti surat botol pertama. Theresa semakin antusias ingin mengetahui apakan ada surat lainnya dan siapa penulis surat tersebut. Kemudian, akhirnya surat botol ketiga ditemukan olehnya.
Berbekal ketiga surat tersebut dan rasa kagum pada penulisnya, serta dorongan kuat dari Deanna – sahabatnya,, Theresa menuju ke lokasi dimana surat tersebut dibuang ke laut. Ia telah merasakan kembali rasa cinta yang dulu hilang, meski ia tidak banyak berharap.
Wilmington, adalah kota yang ia percaya menjadi kota kediaman Garret, dan kesanalah tujuannya sekarang. Setelah ia memastikan semua informasi yang ia dapat dari Deanna, akhirnya ia dapat bertemu dengan Garret. Tepat seperti harapannya, Garret bukanlah sesosok pria tua, bahkan mungkin umur mereka hanya terpaut sedikit.
Hari demi hari mereka habiskan bersama dan semakin lama perasaan yang mereka rasakan semakin dalam, baik Theresa maupun Garret. Musibah datang ketika Theresa mengakui bagaimana ia datang, siapa ia sebenarnya, dan bahwa ia telah memuat semua surat yang ia temukan di surat kabar. Garret merasa dibohongi, dan akhirnya hubungan mereka pun retak.
Semua itu mampu mereka lewati dan akhirnya perasaan cinta merekalah yang kembali menyatukan mereka. Sayang, permasalahan tak berhenti sampai disitu. Kini, setelah sekian jauh dan dalam perasaan Theresa kepada Garret, Theresa mulai merasa bahwa salah satu dari mereka harus pindah. Mungkin Theresa yang pindah ke Wilmington, atau Garret yang harus pindah ke Boston.
Dengan memikirkan semuanya – termasuk Kevin dan pekerjaannya di Boston – Theresa merasa bahwa ia tak mungkin yang pindah. Sedangkan di lain sisi, Garret merasa Boston bukan tempatnya, ia terbiasa hidup di kota kecil, bukan kota besar seperti Boston. Segala yang Garret miliki ada di Wilmington. Ayahnya, pekerjaannya, dan kenangan masa lampaunya bersama Catherine.
Theresa tahu bahwa Garret masih mencintai Catherine, meskipun Garret telah bersama dengan Theresa. Garret pun tak kuasa menghalau perasaan cintanya kepada Theresa, namun ia pun tak kuasa menghilangkan ingatan dan kenangannya bersama Catherine. Akhirnya perpisahan adalah hal yang mereka ambil.
Setelah sekian lama tak ada berita mengenai Garret dan Theresa melakukan aktivitas yang biasanya ia lakukan sebelum bertemu Garret, tiba-tiba ia menerima telepon dari Jeb, ayah Garret. Jeb meminta Theresa untuk segera menemuinya di Wilmington dan Jeb ingin mengatakan sesuatu kepada Theresa mengenai Garret.
Segera setelah menerima telepon tersebut, Theresa mengatur waktu dan menemui Jeb di Wilmington. Ketika bertemu, Jeb menceritakan bahwa Garret hilang ketika Garret pergi berlayar dalam badai.
Mengapa Garret pergi berlayar dalam badai? Apakah Theresa akhirnya menemukan sebagian hatinya yang telah hilang? Apakah kisah cinta mereka berakhir dengan bahagia? Selanjutnya silahkan Anda baca sendiri…
Ceritanya lumayan seru, meskipun terkadang terdapat bagian-bagian yang sedikit membosankan. Tapi selebihnya, silahkan Anda tentukan sendiri.