You Make Me Feel Brand New

My love

I’ll never find the words, my love

To tell you how I feel, my love

Mere words could not explain


Precious love

You held my life within your hands

Created everything I am

Taught me how to live again


Only you

Cared when I needed a friend

Believed in me through

thick and thin

This song is for you

Filled with gratitude and love


God bless you

You make me feel brand new

For God blessed me with you

You make me feel brand new

I sing this song ’cause you

Make me feel brand new


My love

Whenever I was insecure

You built me up and made me sure

You gave my pride back to me


Precious friend

With you I’ll always have a friend

You’re someone whom I can depend

To walk a path that sometimes bends


Without you

Life has no meaning or rhyme

Like notes to a song out of time

How can I repay

You for having faith in me

Diterbitkan di:  on Februari 25, 2009 at 11:56 am Komentar (1)

All I am

Who do you think you see

When you look at me

Is it somebody strong

Somebody you could admire

And who do you think I am

when I take your hand

Are you counting on me

To fill your dreams and your desires

Chorus

Well all I am

is lonely just like you

All I wanna do

is have one dream comes true

All I am

is handing you my heart

hoping to be part of you

Who do you think you are

Standing in the dark

Are you waiting for me

Why can’t I reach you from here

oh, how do I get to you

when you look me through

don’t you think that maybe

we have something special to be shared

Diterbitkan di:  on at 11:51 am Tinggalkan sebuah Komentar

KISAH SEORANG SAHABAT 1

Tulisan ini kutulis ketika aku teringat akan perkataan sesorang. Percakapan malam itu terasa sangat mendalam. Entah karena masalah yang dia miliki ataukah memang malam itu sangat dingin. Dan kini, percakapan itu kembali berputar dikepalaku saat aku mendengarkan “only human”.

Ia bercerita mengenai kisah cintanya yang sungguh rumit, well, memang sangat rumit. Dia sempat mengatakan bahwa ia memilih untuk hilang ingatan daripada harus mengenang kenangan yang membahagiakan sekaligus menyakitkan itu. Akupun tersentak ketika mendengar hal itu. Bagaimana mungkin seseorang memohon untuk hilang ingatan disaat orang lain ada yang berusaha mempertahankan ingatannya, dengan sangat bersusah payah.

Walaupun pembicaraan itu melalui telepon, tapi aku tau, disana ia sedang menahan tangis. Walaupun ia tak bercerita asal mula kisah cintanya, tapi aku tau tentang kisah cinta itu. Sungguh mempesona jika melihata beberapa gambar yang pernah ia tunjukkan. Terlihat bagaimana dalamnya perasaan mereka satu sama lain, dan yang paling mengharukan adalah gambar yang dilatari pemandangan pegunungan ketika matahari terbit. Mereka begitu dekat dan dapat kurasakan betapa hangatnya tatapan mereka, walaupun foto itu begitu gelap, hanya siluet sinar berbentuk garis lurus yang membentang di belakang mereka, sebuah guratan sinar ketika matahari mulai menyentuh horizon.

Ia mengungkapkan semua perasaannya, mulai dari bagaimana ia mencintainya hingga bagaimana cinta itu harus memisahkan mereka. Mereka tak dapat melanjutkan hidup jika salah satu dari mereka tak mampu merelakan egonya. Yah, masalah perbedaan agama. Sesuatu yang amat pelik.

Ada beberapa orang yang berkata, kalau kita sudah mengetahui hal itu akan berakhir tidak bahagia, seharusnya kita sudah sadar dan membangun dinding tebal dari awal. Aku tau mengenai ini, jangan pernah bermain dengan api jika kau tak dapat memadamkannya. Tapi bagaimana dengan perasaan manusia? Semudah itukah kita menghindari perasaan yang tanpa kita sadar berkembang lebih jauh, lebih cepat, dan lebih dalam? Tapi, memang sebuah perumpamaan yang bijak untuk tidak bermain-main dengan hal yang berbahaya jika kita tak mampu mengatasinya kelak.

Ada perkataan mengenai cinta dan bunga. Love isn’t like a flower, because a flower could select place to bloom, but loves do not select.

Mungkin perumpamaan diatas dapat dijadikan sebuah hiburan saja, tetapi sesungguhnya cinta benar-benar memilih tempat untuk berkembang. Kita dapat menumbuhkembangkan perasaan kita kepada seseorang yang kita rasa benar-benar tepat. Jika ia memang jodoh kita, segala hambatan justru akan membukakan sebuah lembaran baru yang lebih berwarna, tidak hanya lembaran putih dan bersih tanpa noda.

Lalu apa yang dapat dilakukan ketika hal itu sudah terlanjur terjadi? Menyesal dan berharap ingatan itu akan hilang? Tentu saja tidak. Justru hal-hal seperti itulah yang menjadikan hidup manusia lebih bermakna. Mungkin memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menutup luka, tapi dengan obat yang benar, luka itu akan lebih baik hari demi harinya, dengan catatan obat yang digunakan memang obat yang tepat. Biar kusarankan salah satu obat penghilang rasa sakit. Persahabatan sejati.

Teman sejati merupakan karunia terbesar dan yang paling sedikit kita pikirkan untuk memperolehnya.  Sebuah kata-kata dari Francois, Duc de La Rochefoucald.

Berbicara mengenai obat, aku juga mempunyai sebuah cerita mengenai seorang sahabat yang salah memilih obat untuk luka hatinya. Tapi mungkin aku akan menulis kisah itu di lembaran lain. Lembaran masa kuliah yang tidak henti-hentinya mengharu biru, namun berakhir dengan tawa bahagia, semoga.

Diterbitkan di:  on Februari 23, 2009 at 1:17 pm Tinggalkan sebuah Komentar

PERATURAN YANG ANEH…

Semalam, Jum’at 13 Februari 2009, di Institut teknologi Bandung telah dilaksanakan ceremony penutupan olimpiade. Olimpiade ini merupakan sebuah ajang bagi seluruh himpunan di ITB untuk menujukkan kemampuan mereka dalam bidang olah raga. Pembagian piala dan rasa suka cita sebagai pencitraan rasa bangga pun bergulir, tapi sayang, saya tidak mengikuti ceremony tersebut.
Sore itu saya langsung kembali ke kosan untuk beristirahat setelah saya menyaksikan pertandingan bola voli antara Teknik Sipil dan Teknik Mesin ITB. Sebagai anggota HMS, saya merasa bangga karena kami berhasil meraih emas pada cabang bola voli tersebut. Selain itu, pertandingan voli tersebut juga berlangsung sangat sportif, tidak ada yang berujung pada kemarahan ataupun rasa iri. Hanya sorak sorai kemenangan dan riuhnya tepuk tangan dari kedua belah pihak yang menutup pertandingan tersebut.
Saat saya tiba dikosan, ketika itu kosan masih kosong. Mungkin sebagian dari mereka mengikuti ceremony penutupan. Ketika salah seorang dari mereka pulang, ada yang bertanya kepada saya, “kok, tadi HMS – Himpunan Mahasiswa Sipil – ga ikut ceremony?”.
Saya pun menjelaskan kepada dia bahwa kami tidak mengikuti ceremony tersebut sebagai bentuk protes terhadap keputusan yang diberikan oleh panitia penyelenggara. Keputusan tersebut merupakan buntut dari bentrokan yang terjadi ketika pertandingan sepak bola berlangsung. Saat itu, kami – HMS – juga keluar sebagai peraih emas. Namun sayang, lawan tanding kami bersikap kurang sportif, mereka mulai rusuh ketika pertandingan berakhir.
Saat itu, pihak kami merupakan pihak yang ditekan, bahkan pukulan dan tendangan serta lemparan pun mulai terjadi. Kami pun bersikap reaktif, berusaha menahan kerusuhan itu dan melindungi teman-teman kami, sebagai penjelasan, saat itu terdapat beberapa teman kami yang wanita. Walaupun sebenarnya kami sadar akan peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia, yaitu apabila terjadi bentrokan, maka kedua belah pihak akan didiskualifikasi. Namun kami tak bisa tinggal diam melihat kejadian seperti itu.
Setelah kejadian itu, panitia pun berekasi. Jelas mereka mendiskualifikasi kami. Tapi sayang, mereka tidak melihat akar permasalahan yang terjadi. Apakah kami harus tinggal diam melihat teman kami yang ditekan secara fisik? Apakah tidak ada pembelaan sebagai bentuk pertahanan diri?
Orang normal sekalipun pasti bersikap reaktif untuk membela diri jika terjadi hal semacam itu. Sebenarnya pembelaan diri itu sah-sah saja dalam mata hukum. Ehem…
Kenapa saya membawa-bawa hukum disini? Karena saat pihak kami mengajukan protes, pihak panitia malah menjawab tanpa dasar yang kuat. Mereka hanya berusaha membela diri mereka dari kesalahan yang jelas-jelas telah terjadi. Mereka mengatakan bahwa, apabila HMS ditekan, maka seharusnya seluruh massa HMS mengangkat tangan sebagai tanda damai.
Sebodoh apa orang yang mengangkat tangan mereka ketika mereka sedang dalam kondisi tekanan secara fisik? Sebodoh apa seorang teman yang tega melihat dalam diam ketika teman mereka diinjak? sebodoh apa orang yang tetap tenang ketika dalam bentrokan tersebut terdapat beberapa wanita dan kita hanya bisa menatap miris?
Kemudian pernyataan lain yang benar-benar mengecewakan adalah ketika salah satu dari kami melontarkan pertanyaan “ bagaimana kalo ada yang mati saat bentrokan itu?”. Panitia hanya menjawab “itu adalah tanggung jawab panitia”.
HAH!!bodoh benar orang yang berkata seperti itu, dimana rasa kemanusiaannya? Sepertinya gampang saja ia mengatakan ‘itu tanggung jawab panitia’ padahal nyawa seseorang bisa saja terancam. Bahkan dalam hukum saja, apabila nyawa kita sedang terancam, maka kita diperbolehkan melakukan pembelaan diri demi menyelamatkan diri kita.
Well, sebenarnya tulisan ini hanyalah ungkapan rasa kecewa terhadap panitia olimpiade ITB tahun 2009. Sepertinya mereka hanya menganggap remeh hal-hal kecil seperti ini. Mereka tidak mau repot-repot untuk menelisik lebih dalam akar permasalahan yang terjadi. Seharusnya, apabila panitia memang berani mengajukan peraturan seperti itu, mereka lebih waspada dan menyiapkan berbagai list sebagai tindakan preventif. Jangan hanya diam saja tanpa berpikir. Sungguh tidak sejalan peraturan dan tindakan pencegahan yang ada.
Sebaiknya, dalam suatu event, tindakan pencegahan bahaya itu harus masuk sebagai daftar prioritas tertinggi list yang harus dibuat. Jangan seperti ini. Saya juga meminta maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang tepat, tapi sebagian besar tulisan ini, saya merujuk kepada teman-teman yang menyaksikan langsung kejadian-kejadian yang ada.

Diterbitkan di:  on Februari 14, 2009 at 5:02 am Komentar (3)

RESENSI MESSAGE IN A BOTTLE

Message in a bottle adalah sebuah buku karya Nicholas Sparks yang mengisahkan tentang pencarian sebagian hati yang hilang akibat pengkhianatan. Theresa, merupakan seorang wanita yang telah menutup hatinya dari yang namanya cinta. Ia adalah seorang jurnalis sebuah surat kabar di Kota Boston yang juga merupakan seorang ibu dari anak laki-laki bernama Kevin. Perceraian dengan suaminya menyebabkan ia harus bekerja sepenuh hati demi menghidupi anak lelakinya yang mulai beranjak dewasa.

Kisah hidupnya dimulai ketika Kevin sedang menghabiskan liburannya dengan David, ayahnya sekaligus mantan suami Theresa. Untuk menghabiskan waktunya, ia diajak Deanna yang merupakan atasan sekaligus sahabat Theresa untuk pergi berlibur. Cape Cod merupakan tujuan utamanya. Mereka memiliki sebuah pondok kecil ditepi pantai, disana Deanna biasa menghabiskan waktu dengan suaminya.

Suatu pagi, Theresa melakukan jogging yang merupakan kegemarannya sekaligus hal yang ia lakukan untuk menjaga kesehatannya dan menenangkan dirinya. Ketika ia beristirahat sejenak di pinggir pantai, ia sempat menemukan sebuah botol yang didalamnya terlihat sebuah surat. Pertama kali mengambilnya, Theresa merasa sangat antusias, karena ketika ia masih kecil dan sedang berlibur dengan orang tuanya di Florida, ditemani dengan seorang temannya, mereka membuat sebuah surat botol. Setelah sekian lama, kenangan akan surat itu terlupakan, dan kini ia menemukan sebuah surat lainnya. Sejenak Theresa merasa tegang, mungkin saja itu surat yang dulu ia lemparkan ke laut bersama dengan teman dan kenangan masa kecilnya.

Setelah ia mengambil botol itu, terlihat jelas bahwa kertas surat yang ia temukan terlihat sudah sangat lama. Ia berusaha membuka tutup botol tersebut dengan perasaan tegang. setelah sekian lama ia berkutat membuka, akhirnya tutup tersebut terlepas dari mulut botol.

“…Aku ada disini untuk mencintaimu, untuk memelukmu, untuk melindungimu. Aku ada disini untuk belajar darimu dan untuk merasakan balasan cintamu. Aku ada disini karena tak ada tempat lain lagi bagiku….”

Surat tersebut di buat oleh seorang pria bernama Garret dan diperuntukkan bagi seorang wanita bernama Catherine. Setelah ia membaca surat tersebut dan tersentuh akan isinya, ia kembali ke pondok Deanna. Dalam kebingungan Deanna bertanya apa yang terjadi pada Theresa, kemudian Theresa menjelaskan semuanya dan memberikan surat botol tersebut kepada Deanna. Deanna berpikir untuk memuat surat tersebut dalam salah satu kolom di surat kabar tempat mereka bekerja.

Semula Theresa menolak hal tersebut, ia berpikir surat itu bersifat pribadi dan mungkin hanya sebuah tulisan iseng saja, namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ia setuju untuk memuat surat tersebut dalam salah satu rubrik di surat kabar. Setelah sekian lama, banyak masyarakat yang mengagumi surat tersebut, beberapa ada yang mengaku sebagai penulisnya.

Pada saat Theresa mengecek surat untuknya, ia menemukan salah satu surat lain yang dikirim oleh penulis yang sama dengan tujuan yang sama seperti surat botol pertama. Theresa semakin antusias ingin mengetahui apakan ada surat lainnya dan siapa penulis surat tersebut. Kemudian, akhirnya surat botol ketiga ditemukan olehnya.

Berbekal ketiga surat tersebut dan rasa kagum pada penulisnya, serta dorongan kuat dari Deanna – sahabatnya,, Theresa menuju ke lokasi dimana surat tersebut dibuang ke laut. Ia telah merasakan kembali rasa cinta yang dulu hilang, meski ia tidak banyak berharap.

Wilmington, adalah kota yang ia percaya menjadi kota kediaman Garret, dan kesanalah tujuannya sekarang. Setelah ia memastikan semua informasi yang ia dapat dari Deanna, akhirnya ia dapat bertemu dengan Garret. Tepat seperti harapannya, Garret bukanlah sesosok pria tua, bahkan mungkin umur mereka hanya terpaut sedikit.

Hari demi hari mereka habiskan bersama dan semakin lama perasaan yang mereka rasakan semakin dalam, baik Theresa maupun Garret. Musibah datang ketika Theresa mengakui bagaimana ia datang, siapa ia sebenarnya, dan bahwa ia telah memuat semua surat yang ia temukan di surat kabar. Garret merasa dibohongi, dan akhirnya hubungan mereka pun retak.

Semua itu mampu mereka lewati dan akhirnya perasaan cinta merekalah yang kembali menyatukan mereka. Sayang, permasalahan tak berhenti sampai disitu. Kini, setelah sekian jauh dan dalam perasaan Theresa kepada Garret, Theresa mulai merasa bahwa salah satu dari mereka harus pindah. Mungkin Theresa yang pindah ke Wilmington, atau Garret yang harus pindah ke Boston.

Dengan memikirkan semuanya – termasuk Kevin dan pekerjaannya di Boston – Theresa merasa bahwa ia tak mungkin yang pindah. Sedangkan di lain sisi, Garret merasa Boston bukan tempatnya, ia terbiasa hidup di kota kecil, bukan kota besar seperti Boston. Segala yang Garret miliki ada di Wilmington. Ayahnya, pekerjaannya, dan kenangan masa lampaunya bersama Catherine.

Theresa tahu bahwa Garret masih mencintai Catherine, meskipun Garret telah bersama dengan Theresa. Garret pun tak kuasa menghalau perasaan cintanya kepada Theresa, namun ia pun tak kuasa menghilangkan ingatan dan kenangannya bersama Catherine. Akhirnya perpisahan adalah hal yang mereka ambil.

Setelah sekian lama tak ada berita mengenai Garret dan Theresa melakukan aktivitas yang biasanya ia lakukan sebelum bertemu Garret, tiba-tiba ia menerima telepon dari Jeb, ayah Garret. Jeb meminta Theresa untuk segera menemuinya di Wilmington dan Jeb ingin mengatakan sesuatu kepada Theresa mengenai Garret.

Segera setelah menerima telepon tersebut, Theresa mengatur waktu dan menemui Jeb di Wilmington. Ketika bertemu, Jeb menceritakan bahwa Garret hilang ketika Garret pergi berlayar dalam badai.

Mengapa Garret pergi berlayar dalam badai? Apakah Theresa akhirnya menemukan sebagian hatinya yang telah hilang? Apakah kisah cinta mereka berakhir dengan bahagia? Selanjutnya silahkan Anda baca sendiri…

Ceritanya lumayan seru, meskipun terkadang terdapat bagian-bagian yang sedikit membosankan. Tapi selebihnya, silahkan Anda tentukan sendiri.

Diterbitkan di:  on at 4:01 am Tinggalkan sebuah Komentar